Dengan pejabat yang cukup lama berkarier di pemasaran, saya berharap manajemen dapat lebih menerapkan “marketing based human resource management” atau MBHRM (manajemen SDM berbasis pemasaran). Competency based HRM memang diperlukan, namun dalam konteks strategic managementyang lebih luas, dimanapun kita berada thinking marketing is a must, karena pada dasarnya dimana ada target yang harus dicapai disitulah ada pasar yang harus dilayani dan dipuaskan.
Saya berharap manajemen baru dapat lebih mamahami bahwa karyawan adalahinternal market yang harus dilayani dan dipuaskan. Karyawan bukanlah sekedar asset, tapi harus dipandang sebagai pasar dimana kita menyandarkan harapan-harapan akan kesuksesan sebuah perusahaan. Semoga manajeman baru bisa menerima kenyataan bahwa tidak akan ada sebuah kesuksesan yang langgeng tanpa kepuasan pelanggan eksternal (pembeli produk kita) dan sulit untuk menggapai kepuasan pelanggan ekternal tanpa kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal. Makin banyaknya keluhan pelanggan akan kualitas produk kita akhir-akhir ini bukanlah semata-mata masalah mixer atau dozometer. Jika kita mau menelaah lebih jauh dan dalam, insya Allah akan kita temukan hubungan antara kepuasan pelanggan eksternal tersebut dengan kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal yang “membeli produk-produk kebijakan SDM”. Maka saya berharap akan ada proses marketing dalam kebijakan-kebijakan manajeman SDM ke depan yang dimulai dengan listening to the voice of customers. Selama ini kita takut berdiri di depan cermin menyaksikan kelemahan diri. Tidak pernah ada sebuah survey kepuasan karyawan yang terbuka dan komprehensif sehingga kita tidak pernah mendengarkan suara mereka. Saya berharap dengan dasar voice of customers itulah kebijakan-kebijakan SDM ke depan dibangun dan “dijual” kepada karyawan yang pada gilirannya akan “dibeli” oleh karyawan dan “dibayar” dengan “komitmen” mereka. Demikianlah seterusnya marketing cycle ini saya harap secara sistem dapat dipertahankan baik untuk mengevaluasi produk-produk kebijakan SDM yang telah lalu maupun untuk memproduksi atau meluncurkan produk-produk kebijakan SDM yang baru.
Akhirnya, on top of that, jika semua itu tak mungkin bisa dicapai, saya hanya berharap bahwa minimal manajemen baru dapat menerapkan “Heart-based Management” (manajemen berbasis hati nurani). Ya Allah, lindungilah para pemimpin kami. Berilah mereka kekuatan, kesehatan dan kejernihan dalam mengemban amanah, baik kejernihan pikiran maupun kejernihan hati nurani!!
Mau baca lengkapnya? Klik aja......
Saya berharap manajemen baru dapat lebih mamahami bahwa karyawan adalahinternal market yang harus dilayani dan dipuaskan. Karyawan bukanlah sekedar asset, tapi harus dipandang sebagai pasar dimana kita menyandarkan harapan-harapan akan kesuksesan sebuah perusahaan. Semoga manajeman baru bisa menerima kenyataan bahwa tidak akan ada sebuah kesuksesan yang langgeng tanpa kepuasan pelanggan eksternal (pembeli produk kita) dan sulit untuk menggapai kepuasan pelanggan ekternal tanpa kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal. Makin banyaknya keluhan pelanggan akan kualitas produk kita akhir-akhir ini bukanlah semata-mata masalah mixer atau dozometer. Jika kita mau menelaah lebih jauh dan dalam, insya Allah akan kita temukan hubungan antara kepuasan pelanggan eksternal tersebut dengan kepuasan karyawan sebagai pelanggan internal yang “membeli produk-produk kebijakan SDM”. Maka saya berharap akan ada proses marketing dalam kebijakan-kebijakan manajeman SDM ke depan yang dimulai dengan listening to the voice of customers. Selama ini kita takut berdiri di depan cermin menyaksikan kelemahan diri. Tidak pernah ada sebuah survey kepuasan karyawan yang terbuka dan komprehensif sehingga kita tidak pernah mendengarkan suara mereka. Saya berharap dengan dasar voice of customers itulah kebijakan-kebijakan SDM ke depan dibangun dan “dijual” kepada karyawan yang pada gilirannya akan “dibeli” oleh karyawan dan “dibayar” dengan “komitmen” mereka. Demikianlah seterusnya marketing cycle ini saya harap secara sistem dapat dipertahankan baik untuk mengevaluasi produk-produk kebijakan SDM yang telah lalu maupun untuk memproduksi atau meluncurkan produk-produk kebijakan SDM yang baru.
Akhirnya, on top of that, jika semua itu tak mungkin bisa dicapai, saya hanya berharap bahwa minimal manajemen baru dapat menerapkan “Heart-based Management” (manajemen berbasis hati nurani). Ya Allah, lindungilah para pemimpin kami. Berilah mereka kekuatan, kesehatan dan kejernihan dalam mengemban amanah, baik kejernihan pikiran maupun kejernihan hati nurani!!