Sebuah Cerita Pendek
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, ........ Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Al Baqarah ayat 155 dan Alam Nasyrah ayat 6 tersebut menutup diskusi panjangku dengan ayah.
Ayahku dahulu adalah seorang petani di sebuah desa yang cukup subur. Desa kami berada di lereng sebuah bukit. Walaupun tidak terlalu luas tapi ayah memiliki tanah sawah yang cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya, aku dan adikku. Sampai pada suatu waktu datanglah musibah itu, krisis moneter! Musibah itu dimulai dari terjungkalnya nilai tukar Bath, mata uang Thailand. Dengan cepat virus krisis tersebut menyebar ke seluruh penjuru Asia, tak terkecuali negeriku, negara yang saat itu disebut-sebut sebagai salah salah satu keajaiban ekonomi Asia. Kehidupanpun berubah total, kami yang tadinya hidup sekedar cukup, terjerembab jauh di bawah garis kemiskinan. Namun bencana itu juga mendatangkan hikmah yang lain, reformasi politik. Euforia kebebasan merebak kemana-mana. Kami seperti baru terbebas dari sebuah ketidakberdayaan. Euforia tersebut berpadu dengan himpitan kesulitan ekonomi yang tak tertahankan, membuat kami kehilangan akal sehat. Kamipun mulai menjarah pohon-pohon yang tumbuh di bukit di atas desa kami. Dalam hitungan minggu hutan diatas bukit tersebut berubah menjadi lahan terbuka yang menyedihkan. Tidak ada lagi dedaunan lebat yang menahan laju air hujan yang menghujam tanah. Tidak ada lagi akar yang terangkai membentuk jaring yang menahan massa tanah. Beberapa bulan setelah itu kamipun menuai buahnya.
Saat hujan lebat di suatu malam, kami dibangunkan oleh suara gemuruh yang dahsyat. Bumi seperti bergetar hebat. Suara takbir, jerit kepanikan dan ketakutan berbaur bersahutan disana-sini. Secara naluriah ayah segera menggendong adikku dan ibu menggandeng tanganku dengan erat. Kami berlari sekuat tenaga menghindar dari desa kami. Dari tempat yang cukup aman aku melihat jutaan ton massa tanah diatas bukit seperti berlomba lari menuruni bukit dengan suara gemuruh yang mendirikan bulu roma. Massa tanah itu dengan cepat mengubur sebagian besar tanah sawah dan pemukiman di desa kami, termasuk sawah dan rumah kami. Aku lihat mata ayah dan ibu berkaca-kaca dan sempat lamat aku dengar ayahku bergumam ”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Tidak ada ratap tangis. Ayah telah menunjukan pada kami bagaimanakah seharusnya sikap seorang muslim menghadapi musibah yang telah ditetapkan oleh Allah sesuai firmanNya dalam Al Baqarah 156. Ayah kemudian memeluk kami bertiga dan dengan keyakinan tanpa reserve ayah membisikan Al Baqarah 155 dan Alam Nasyrah 6. Ayahpun semakin dalam menanamkan nilai-nilai keimanan Islam kedalam sanubari kami.
Tidak ada pilihan lain. Kamipun harus meninggalkan bekas desa kami dan pindah ke kota. Disinilah ayah membuktikan kepada kami keyakinannya akan kedua ayat tersebut diatas. Tak lama setelah kami pindah di kota, ayah segera mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik yang cukup besar. Walaupun hanya sebagai tenaga kontrak, namun gaji yang ayah terima lebih baik daripada hasil sawah kami di desa. Dengan kesabaran yang luar biasa ayah dan ibuku sanggup menyekolahkan aku dan adikku bahkan sampai ke bangku perguruan tinggi, sesuatu yang tak pernah diimpikan oleh ayahku sebelumnya. Saat ini aku telah duduk di semester akhir sebuah perguruan tinggi teknik ternama di kotaku. Satu langkah lagi aku berhak menambahkan ”koma ST” di belakang namaku. Namun tampaknya Allah belum cukup mencoba kami.
Bencana itu kembali menghantam negeri ini. Para pakar menyebutnya krisis ekonomi jilid dua. Kali ini krisis bermula dari kredit macet sektor properti di negeri adidaya, USA, yang bahkan menumbangkan lembaga keuangan dan perusahaan kelas dunia. Nilai mata uang negeriku kembali terjerembab. Beberapa perusahaan yang bergantung pada pasokan bahan baku impor seperti perusahaan tempat ayahku bekerja mulai goyah. Dan seperti terjadi dimanapun, hal yang paling rasional dan mudah bagi manajemen untuk mengurangi beban perusahaan adalah pengurangan karyawan. Tentu saja yang paling mudah untuk dipangkas adalah mereka yang tidak memiliki ikatan permanen dengan perusahaan, para tenaga kontrak. Dan ayahku berada di urutan teratas daftar tersebut karena usianya yang telah paruh baya. Dengan cepat roda kehidupan kembali memutar kami ke titik nadir terbawah. Ayah telah memberitahukan kepadaku bahwa aku harus berhenti kuliah. Aku sungguh tidak rela gerbang kehidupan yang tinggal satu langkah lagi dapat aku lalui harus aku tinggalkan. Hari ini aku berdebat dengan ayahku untuk tetap kuliah, tapi kembali ayahku menembakku dengan senjata pamungkasnya, Al Baqarah 155 dan Alam Nasyrah 6. Akupun tak berdaya! Namun dalam hati aku bertekad, ”aku harus tetap kuliah, whatever it takes!”. Akupun memutuskan untuk bekerja sambil kuliah
Hari-hari berikutnya aku habiskan untuk melamar pekerjaan kesana kemari. Namun alih-alih menerima karyawan baru, semua perusahaan justru dipusingkan dengan upaya mengurangi jumlah tenaga kerja mereka. Hari itu, setelah lelah berkeliling ke beberapa perusahaan tanpa hasil, aku menuju ke perpustakaan kampusku. Perpustakaan dan masjid kampus memang selalu menjadi jujugan akhirku setiap kali aku menghadapi masalah yang pelik dan tak terpecahkan. Di sudut perpustakaan aku lihat Andri, teman kuliahku. Aku tidak begitu mengenal Andri, karena Andri adalah mahasiswa tipe kuliah-pesta-wanita. Ya, Andri memang mahasiswa flamboyan yang banyak disukai teman-teman wanita. Dia tampan dan kaya, walaupun tidak terlalu pandai. Menurutku aktivitasnya lebih banyak bersifat hura-hura. Andri seringkali berganti-ganti mobil. Tubuhnya selalu dibalut pakaian bermerk. Semerbak parfum bernilai jutaan selalu tercium setiap kali berdekatan dengannya. Sedangkan aku adalah mahasiswa tipe kuliah-buku-perpustakaan. Tentu saja aku merasa kurang nyaman jika harus bergaul dekat dengan teman seperti Andri. Namun hari ini aku singkirkan perasaan tersebut. Mungkin Andri bisa menolongku. Aku yakin orangtua Andri adalah seorang pengusaha sukses. Setelah berbasa-basi, aku sampaikan maksudku untuk minta tolong Andri mencarikan pekerjaan buatku. Andri memandangiku dari atas ke bawah. Dia tersenyum. ”Kayaknya aku bisa kasih kamu pekerjaan”, ujarnya. Dia memberi isyarat kepadaku untuk mendekat dan membisikan sesuatu ke telingaku. Aku terkejut, ”Gila kamu Ndri, tak mungkin aku melakukan itu!”. Andri hanya mengangkat bahunya. ”Yah, terserah kamu. Kalau hanya untuk biaya kuliahmu sampai selesai, kamu hanya perlu melakukannya sekali. Ini nomor hapeku kalau kamu berubah pikiran”, Andri berlalu meninggalkanku. Aku baru menyadari darimana Andri membiayai gaya hidupnya yang mewah tersebut.
***
Satu minggu setelah pertemuanku dengan Andri, aku menemuinya di sebuah hotel bintang lima. Kamipun segera bergegas menuju lantai 12 hotel tersebut. Di kamar tersebut telah menunggu tiga orang wanita. Aku yakin usia ketiga wanita tersebut tidak terpaut jauh dengan ibuku, namun berkat perawatan yang intensif, ketiganya masih terlihat cantik. Menurut Andri, ketiga wanita tersebut adalah istri pejabat berpengaruh dan istri direktur perusahaan besar di kotaku. Ketiganya baru saja memenangkan arisan di kalangan wanita papan atas. Selain uang jutaan rupiah, pemenang arisan ini juga mendapatkan bonus hadiah lain, seorang pemuda!! Aku sudah sering mendengar cerita burung tentang arisan ini, namun tidak pernah sedikitpun terpikirkan bahwa aku akan terlibat di dalamnya, sebagai sang bonus!! Inilah profesi Andri. Setelah berbasa-basi sejenak, Andri meninggalkan kami.
Aku memperhatikan ketiga wanita tersebut. Aku teringat ibuku. Ibuku, muslimah yang demikian taat, tak pernah sedikitpun auratnya terbuka kecuali dihadapan suami dan anak-anaknya. Jilbab ibuku selalu terjulur menutupi dadanya, sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al Ahzab 59. Sementara entah berapa banyak wanita yang mengaku muslimah mengabaikan begitu saja ayat tersebut, padahal ayat tersebut bukanlah ayat mutasyabihat yang memerlukan penjelasan seorang ahli untuk menafsirkannya. Setiap lepas maghrib, rumah kami selalu sejuk oleh alunan merdu suara ibu yang melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Shalawat Ibrahimiyah selalu kudengar dari bibir ibuku pada setiap kesempatan. Kedua amalan itulah, bersama dengan do'a setelah adzan, yang akan membuat kita mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW kelak di akhirat. Lalu aku perhatikan ketiga wanita di hadapanku. Aku bertanya dalam hati, pernahkah mereka mengkaji satu saja ayat kitab suci? Pernahkah mereka sekali saja hadir dalam majlis ta’lim? Aku bayangkan jiwa ketiga wanita tersebut seperti gersangnya sahara. Sejenak aku dipagut keraguan akan apa yang aku lakukan. Namun suara lain dalam hatiku menepis keraguanku. Aku harus tetap kuliah, whatever it takes!! Aku hanya perlu melakukannya satu kali!! Aku menguatkan tekadku.
Ketiga wanita tersebut mulai mendekatiku. Aku, mahasiswa tipe kuliah-buku-perpustakaan, tak pernah sedekat ini dengan lawan jenisku. Maka ketika segar aroma nafas dan parfum ketiga wanita tersebut menyerbu rongga hidungku, jantungku berdetak kencang memompakan darahku dengan kecepatan dua kali lipat ke seluruh organ tubuhku. Ketika jari-jari ketiga wanita itu mulai menjamah kancing-kancing bajuku, seluruh syaraf dalam tubuhku bergetar hebat. Aku menggigil. Aku pejamkan mataku. Dan saat lembar benang terakhir lepas dari tubuhku, akupun terbang menembus gugusan awan putih di langit. Aku mendarat di salah satu awan. Aku rasakan keheningan yang tak pernah aku alami sebelumnya. Udara dipenuhi harum aroma minyak kesturi. Semilir angin sejuk menerpa tubuhku. Aku merasakan gambaran surga seperti yang diceritakan dalam ayat-ayat kitab suci dan hadis-hadis nabi. Awan tersebut bergerak perlahan melintasi sebuah perbukitan. Aku mengenalnya. Itu adalah bukit di perkampunganku dimana aku dibesarkan. Aku masih bisa mengingat hijau hutan dan gemiricik air terjun kecil di puncak bukit. Awan tersebut terus bergerak melewati gugusan rumah. Itu adalah desaku. Aku lihat rumahku. Di depan rumah berdiri ayah, ibu dan adikku. Mereka memandang kepadaku dengan tersenyum. Aku rasakan betapa teduh kasih sayang yang mereka tumpahkan kepadaku lewat sinar mata mereka. Lalu aku lihat musholla Attaqwa di sebelah rumahku, tempat Ustadz Zainal menanamkan nilai-nilai akidah Islam ke dalam sanubari kami. Aku lihat Ustadz Zainal di depan musholla memandangku. Mata itu sangat tajam berwibawa namun tetap lembut penuh kasih sayang. Tiba-tiba semua berubah. Awan tempatku berbaring berubah menjadi hitam kelam, harum kesturi berganti bau busuk tak tertahankan. Aku lihat ayah, ibu dan adikku. Sinar mata lembut itu telah tertutup oleh genangan air mata iba dan wajah penuh kesedihan. Aku juga melihat sinar mata Ustadz Zainal seperti merah membara menyiratkan kemurkaan. Suaranya bagai petir yang memecahkan gendang telinga semua makhluk di permukaan bumi ini ketika dia menudingku dan meneriakkan Al Israa’ 32, ”Ikhsan, laa taqrobul zina....( janganlah kau dekati zinah)!”.
Astaghfirullah!! Aku berontak dan melompat dari tempat tidur tempatku berbaring. Ketiga wanita yang sedang mengerumuni tubuhku terpental ke belakang. Dengan cepat aku kenakan kembali pakaianku dan menghambur keluar kamar. Di lobby hotel Andri menyambutku dengan senyum nakalnya. ”Kok cepat San?”. Dengan kemarahan memuncak aku layangkan tinjuku ke rahangnya. Tubuh Andri melayang ke udara sebelum jatuh ke atas sofa di belakangnya. Aku terus berlari menuju pintu keluar. Seorang satpam berbadan besar yang mencoba menghadangku terjengkang ke belakang ketika aku mendorongnya. Aku terkejut dengan kekuatan yang tiba-tiba aku miliki. Aku terus berlari keluar hotel. Tak aku pedulikan hujan deras yang membuatku basah kuyub. Aku melompat ke dalam sebuah bis kota yang melintas perlahan dan duduk di bangku kosong di belakang. Gelombang penyesalan terus datang menghantam sanubariku. ”Koran mas?”, seorang anak usia SD menawarkan dagangannya. Ya, Allah! Cobaan yang Engkau berikan pada anak ini jauh lebih hebat dari aku. Dia mungkin bahkan tidak mampu membayar sekolahnya yang baru SD, namun dia tidak menghinakan dirinya dengan meminta-minta. Gelombang penyesalan dalam hatiku berubah menjadi tsunami maha dahsyat yang meremukan perasaanku. Tsunami tersebut membawa ribuan sembilu yang merajam hatiku menjadi jutaan potongan kecil rasa malu dan rasa bersalah yang menyayat-nyayat. Seandainya bisa, ingin aku tersungkur bersujud di lantai bis, merintihkan sayyidul istighfar dan semua kalimat tobat yang aku ingat, ingin aku desahkan ratapan taubat Adam dan Hawa, ”Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa...(Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami...)”. Airmataku tumpah tak tertahankan .Gelombang penyesalan tak juga berhenti mencabik-cabik sanubariku. Penyesalan yang entah kapan dapat aku lupakan. (Sesungguhnya setiap manusia pernah berbuat salah, dan yang terbaik diantaramu adalah yang berbuat salah lalu segera bertaubat - Al Hadist).
salut buat antum,sebuah kisah penuh tauziah,ana tunggu kisah selanjutnya,bbrp ayat yg slalu buat ana percaya dg kekuatan doa dan kebesaran sang KHALIK,salah satunya ayat2 yg antum kemukakan dlm kisah ini,bbrp yg lainnya:UD'UNNI ASTAJIBLAKUM,INNALLOHA LAA TUHLIFUL MI'AAD,WASTA'INU BISSHOBRI WASHOLA(inilah cara memohon yg baik yaitu dg sabar dan sholat),INNALLOHA MAASHOBIRIN,
BalasHapusmdh2an kesuksesan slalu menyertai antum beserta RidloNya,Wassalam, Abu 'Aisy
jazakallah khoir...tp itu bukan bukan pengalaman pribadi lho!!
BalasHapuskalo helvi tiana rossa baca ini mungkin dia akan berfikir untuk membuat lingkar pena cabang gresik....dan sekuel "ketika mas gagah pergi" suatu saat bisa muncul (Eko Suroso)
BalasHapus