(Dimuat di Bulletin Gema Petrokimia Gresik April 2009)
malam setajam sembilu
mengiris rindu berkarat
kuselipkan dia di puing hati
berkeping
adakah kau cium lamat
aroma dendamku kesumat?
Aku selipkan puisi hasil 3 malam kegelisahanku ke dalam tas Danti saat istirahat sekolah.
Itu hampir duapuluh tahun yang lalu. Masa kami menikmati puncak keelokan fisik manusia. Saat testis kami berada pada puncak kapasitas produksi hormon testosteron. Saat akal sehat kami seringkali tak kuasa menahan gejolak syahwat yang meledak-ledak. Setelah malam-malam yang basah oleh mimpi-mimpi, akupun menyerah. Aku berjuang keras melupakan Danti. Untunglah aku segera ditolong oleh kelulusan kami dari SMU, seperti seorang petinju diselamatkan oleh bunyi gong tanda ronde berakhir. Setelah itu kegelisahanku akan Danti digilas oleh kesibukan studi di perguruan tinggi, apalagi aku harus meninggalkan kotaku untuk meneruskan studiku, sedangkan Danti melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terkenal di kota kami. Perlahan-lahan akupun melupakan Danti. Sampai kemudian aku bertemu Surti, anak ibu kostku. Surti, pelajar Madrasah Aliyah saat aku masih kuliah. Tentu saja Surti berbeda dengan Danti. Tubuhnya selalu tertutup rapat dengan busana muslimah. Akupun tak pernah melihat bagaimana bentuk rambut Surti hingga malam pertama kami. Tidak ada masa pacaran yang bergelora seperti remaja pada umumnya. Aku lulus bertepatan dengan lulusnya Surti dari Madrasah Aliyah. Akupun segera meminangnya dan satu minggu kemudian kamipun menikah. Kini kami telah dikaruniai dua orang anak yang telah tumbuh remaja. Akupun telah lama melupakan Danti, sampai pada masa menjelang pemilihan anggota legislatif di kota kami.
Sore itu, seperti biasa kemacetan yang parah menjebakku sepulang dari kantor. Aku sudah terbiasa dengan kondisi tersebut sehingga aku nikmati saja kemacetan tersebut. Sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan berbagai poster iklan para calon legislatif yang memenuhi setiap sudut dan bahkan pohon-pohon di jalur hijau.. Seperti kebanyakan orang-orang yang rasional dan memiliki akal sehat, aku sama sekali tidak antusias dengan hingar bingar pemilu legislatif. Bayangkan, kami diminta untuk memilih orang-orang yang akan diberi amanah yang demikian besar menentukan nasib bangsa ini sementara kami sama sekali tidak mengenal mereka. Apalagi track record para wakil rakyat selama ini sama sekali tidak mengundang simpatiku. Kemacetan sore itu demikian parah memaksaku untuk merambat hampir dua jam. Saat aku terjebak di sebelah jalur hijau tidak sengaja aku melihat sebuah poster caleg, seorang wanita berkerudung nan cantik. Sekilas aku seperti mengenalnya. Setelah aku baca nama di bagian bawah poster tersebut aku terkejut, Sri Danti Harini, ST, MMBAT. Ya, Danti menjadi caleg salah satu partai yang cukup terkenal. Pikirankupun berputar kembali ke masa SMU kami. Danti masih tetap cantik, tidak jauh berubah dari masa SMU.
Hari-hari berikutnya, aku disibukan dengan upaya mencari info tentang partai tersebut dan caleg-calegnya. Singkat cerita aku berhasil bertemu Danti, setelah aku mengikuti salah satu acara kampanyenya di hadapan para petani di suatu desa. Aku terkagum-kagum dengan pengetahuan Danti tentang masalah pertanian dan kepeduliannya pada nasib petani. Setelah berdiskusi dengan Danti, akupun memutuskan untuk ikut aktif sebagai tim sukses Danti. Hari-harikupun dipadati dengan kesibukan memuluskan jalan Danti menuju kursi parlemen. Keahlianku dalam pemasaran dan manajemen benar-benar dapat membantu tim sukses Danti menyusun berbagai strategi memenangkan Danti. Sesuai dengan keinginan Danti, kami memfokuskan diri pada isu-isu pertanian dan nasib petani. Danti sungguh membuatku kagum. Keahliannya dalam berorasi di depan massa dan ekspresi emosinya dalam menarik simpati massa benar-benar menakjubkan. Dalam sebuah acara kampanye, Danti pernah sampai menangis ketika menggambarkan nasib petani yang tidak juga membaik setelah negara ini merdeka lebih dari 60 tahun. Padahal tidak ada satu rezimpun di negeri ini yang tidak menjadikan pembangunan pertanian sebagai program utamanya. Untuk pertama kalinya aku meyakini bahwa ada wakil rakyat yang akhirnya bisa aku pilih.
Aktivitasku yang demikian intens dalam pemenangan Danti mulai berimbas ke keluargaku. Aku mulai jarang di rumah. Banyak acara keluarga yang biasanya tak pernah aku lewatkan bersama istri dan anakku, aku tinggalkan. Tak bisa aku pungkiri bahwa setelah pertemuan-pertemuan partai yang cukup intens, perasaanku kepada Danti perlahan mulai muncul kembali. Apalagi ternyata Danti sampai saat ini masih belum menikah. Aku sungguh telah lupa bahwa kami tak lagi berada di bangku SMU, bahwa aku telah beristri dan bapak 2 orang anak. Walaupun aku tahu istriku mulai menaruh curiga terhadapku, namun aku yakin Surti tak akan sampai membuka kecurigaannya kepadaku. Surti paham betul arti sebuah hadis yang kira-kira berbunyi, ”seandainya diperbolehkan manusia bersujud kepada manusia, maka akan aku perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya”. Seandainya toh Surti tahu, dia akan menutup rapat aib suaminya. Dia adalah tipikal seorang muslimah yang benar-benar memahami posisinya sebagai seorang istri yang sholehah. Aku sungguh beruntung memilihnya, apalagi dengan posisiku saat ini.
Perjuanganku bersama tim sukses Danti akhirnya membuahkan hasil. Danti berhasil menjadi seorang wakil rakyat. Kamipun disibukkan dengan penyusunan program-program partai sesuai dengan janji-jani Danti saat kampanye dan aku ditunjuk oleh Danti dan partainya untuk menjadi ketua penyusunan program. Sore itu aku berencana bertemu Danti di hotel tempatnya menginap di sebuah hotel berbintang. Danti mengajakku bertemu di kamar hotel karena dia menginap di kamar kelas deluxe suite, sehingga tersedia ruangan kerja tersendiri.
Aku segera memberikan usulan program-program kerja kepada Danti yang akan segera diajukan kepada partai. Danti melihat sekilas usulan tersebut dan membuat beberapa coretan, Ketika berkas tersebut dikembalikan kepadaku, aku terkejut. Semua program berkaitan dengan pertanian dan petani dicoret oleh Danti. Ketika aku mengajukan protes, Danti memandangku.
”Usulan programmu itu nggak akan laku dijual di partai”, Danti mencoba menjelaskan.
”Aku nggak ngerti. Bukankah dalam kampanye kamu selalu bicara tentang pertanian dan memperjuangkan nasib petani”. Danti tersenyum.
”Sweetheart, kamu benar-benar polos deh! Caleg mana yang tidak bicara pertanian dan nasib petani saat kampanye? Semua tentu akan melakukannya. It’s politic, honey! It’s all about gaining power! Dan langkah pertama untuk mendapatkan kekuasaan adalah suara rakyat dalam pemilu. Kau tahu berapa jumlah petani di Indonesia? Bodoh kalau kami tidak bicara pertanian saat kampanye. Kamu tahu kan setiap tahun kekurangan pupuk selalu terjadi di negeri ini? Tapi kenapa tahun ini gemanya jauh lebih dahsyat? Setiap hari diseluruh surat kabar ada berita tentang kelangkaan pupuk. Jawabannya karena tahun ini banyak yang ingin jadi pahlawan bagi petani dengan seolah-olah memperjuangkan nasib petani. Semua dalam rangka merebut suara para petani”.
Aku terdiam. Aku sungguh tak percaya itu keluar dari bibir Danti. Bibir yang selama ini begitu aku kagumi bukan saja karena sanggup membakar gairah lelaki dengan hanya memandangnya, namun juga yang aku yakini tidak akan pernah berkata dusta.
“Tentu saja kita akan buat beberapa program untuk petani, tapi prioritas saat ini bagi partai adalah bagaimana mengembalikan modal kampanye yang telah kita investasikan. Kita akan buat program-program yang menghasilkan pemasukan bagi partai, setelah itu kita buat program untuk petanimu”. Aku tetap terdiam. Danti memandangku langsung ke arah mataku. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas yang sudah lusuh.
“Malam setajam sembilu, mengiris rindu berkarat…”. Aku terkejut. Danti tersenyum. Disodorkannya kertas tersebut ke arahku. Itu adalah kertas yang pernah aku selipkan ke dalam tas Danti hampir 20 tahun yang lalu.
”Aku masih ingat hari itu tanggal 5 Maret saat kita kelas 2, kamu selipkan kertas itu di buku kimiaku”. Aku seperti tersihir, tak sanggup menggerakkan bibirku.
Danti bangkit berdiri. Tiba-tiba dia melepas jilbabnya. Aku terperangah. Rambutnya masih mempesona seperti dulu. Jenjang lehernya mengundang setiap bibir lelaki untuk menelusurinya. “Aku tahu perasaanmu kepadaku. Hari ini akan aku berikan apa yang kamu inginkan dari aku. Aku milikmu malam ini”, Danti tersenyum menggoda.
Tiba-tiba aku ingat film Doraemon the Movie yang aku tonton bersama anakku. Dalam film tersebut diceritakan seorang tukang sihir cantik jelita yang berubah menjadi nenek tua renta setelah semua mantera sihirnya hilang dan jatidirinya terkuak. Tiba-tiba Danti berubah menjadi seorang nenek sihir yang menjijikan bagiku. Aku berdiri dan tersenyum. ”Terima kasih Danti. Tapi aku harus pulang. Anak dan istriku menungguku”. Sekilas aku lihat sinar kemarahan dan kekecewaan di mata Danti. Aku tak peduli. Tanpa menunggu jawaban aku segera keluar dari kamar Danti.
Sesampainya di rumah, kudapati istri dan anakku telah tertidur. Aku pandangi wajah Surti. Aku berbaring disisinya. Baru aku sadari betapa cantiknya istriku. Aku dekap dia. Aku nikmati hangat tubuh dan segar nafasnya. Aku kecup kening istriku. Malam setajam sembilu....puisi keparat itu mengusik kembali. Tapi Danti sudah mati. Dia telah aku kubur dan membusuk jauh di dasar hati. Aku semakin erat mendekap istriku. Maafkan aku Surti!!